Benarkah Solo Travel Bisa Membentuk Kepribadian Yang Kuat?

Benarkah Solo Travel Bisa Membentuk Kepribadian Yang Kuat?

79
SHARE

Melakukan perjalanan seorang diri, atau istilah kerennya solo travel adalah sebuah hal yang sangat menyenangkan. Dari kegiatan yang kedengarannya sangat sepele ini kita bisa mengukur seberapa tangguhkanh sebebarnya diri kita ini.

Solo travel sering dipilih oleh beberapa orang untuk menemukan jati diri. Peristiwa-peristiwa yang dialami selama perjalanan akan membuat mata semakin terbuka bahwa dunia ini memang luas. Ada banyak hal di luar sana yang belum kita tahu.

Solo travel bisa menjadi media untuk belajar mengembangkan kepribadian. Sedangkan proses pengembangan diri hanya bisa kita lakukan apabila kita sudah berhasil mengenali diri kita sendiri. Percayalah, mengenali diri sendiri itu sama sulitnya dengan mengenali orang lain (secara mendalam). Ada banyak orang yang meskipun sudah mapan secara umur, tapi belum mampu untuk mengenali diri mereka sendiri sehingga jalan hidup yang mereka jalani juga sekedarnya.

Mereka merasa tak nyaman menjalani sebuah pekerjaan tertentu, namun tetap dilakukan karna memang itulah pilihan yang ada. Sebenarnya, hidup ini terdiri atas banyak pilihan, kalau kita menyadarinya. Memiliki kepribadian yang kuat akan membuat kita lebih mantab pada pilihan hidup tertentu. Dan solo travel adalah salah satu media yang pas untuk membangun kepribadian yang kuat. Berikut ini alasannya.

 

Meningkatkan interpesonal skill

Dalam ilmu pengembangan diri ada yang namanya interpersonal skill, yakni bidang yang mempelajari hubungan individu tertentu dengan orang lain di lingkungan sekitar. Interpersonal skill adalah lanjutan dari intrapersonal skill, yakni proses penemuan jati diri. Keduanya saling melengkapi. Jika kita mampu menguasai keduanya niscaya kita akan menjadi pribadi yang tangguh dan menyenangkan.

Meskipun kita melakukan perjalanan seorang diri, pada kenyataannya kita tak akan pernah benar-benar sendiri. Dalam perjalanan, ada saja orang yang akan kita temui. Entah itu pedagang musiman lintas pulau, sesama pejalan, atau seorang bapak yang hendak menjenguk anaknya di luar kota. Setiap pertemuan pasti akan menimbulkan komunikasi. Semakin sering kita berkomunikasi dengan orang dari latar belakang yang berbeda, akan semakin baik pula interpersonal skill yang kita miliki. Pada akhirnya, kita akan menjadi orang yang pandai menempatkan diri.

 

Untuk menunjukkan bahwa kita tak bisa hidup sendiri

Foto: https://www.intrepidtravel.com/

Solo travel juga baik untuk menguji kemandiriaan kita sebagai individu. Bukan cuma kemandirian dalam hal finansial, tapi juga pada beberapa aspek lain dalam hidup. Seringnya, kita malah akan semakin sadar bahwa mustahil kita bisa hidup sendiri, seberapa kuat pun kepribadian yang kita miliki.

Ambil saja contoh saat kita hendak melakukan perjalanan ke kota A via kereta api. Dalam hal ini kita sudah melibatkan banyak orang. Masinis, petugas peron, petugas loket dan lain-lain. So, kalau ada orang yang bilang bahwa dia hidup sendiri, itu pasti bohong.

 

Menempa mental baja

Meskipun tak bisa hidup tanpa orang lain, setidaknya kita bisa meminimalisir ketergantungan dengan orang lain. Jika kamu pernah (atau bahkan sering) melakukan perjalanan seorang diri, tentu kamu juga pernah mengalami kejadian-kejadian yang mungkin baru pertama kali kamu alami. Misalnya main kucing-kucingan dengan preman di terminal atau meminta tumpangan dari sopir truk lintas pulau. Peristiwa-peristiwa spontan dan baru yang kamu alami selama perjalanan akan semakin menguatkan mental dan menjadikanmu pribadi yang tidak lembek.

 

Belajar mencari solusi terbaik

Seorang teman pernah melakukan perjalanan dari Flores ke Jawa dengan budget yang minim. Sisa uang ia miliki tak memungkingkan untuk naik kendaraan umum semacam bis antar pulau apalagi pesawat. Maka satu-satunya opsi yang ia punya adalah naik kapal, menyebrangi 4 selat dan 3 pulau. Pada titik tertentu ia harus mencari jalan keluar supaya bisa sampai ke Pulau Jawa – dengan tujuan akhir Malang – dengan tepat waktu dan semurah mungkin. Pada akhirya ia memutuskan untuk numpang sebuah truk eksibisi yang memuat komoditi yang mengirim barang dari Flores ke Surabaya.

Ketika melakukan solo travel, kita mungkin akan dihadapkan pada kejadian serupa, bahkan mungkin lebih buruk. Dan tentu saja kita dituntut untuk mencari jalan keluar terbaik jika masih ingin melanjutkan perjalanan. Secara tidak langsung hal ini telah mengajari kita untuk mengambil keputusan dalam kondisi terjepit.

 

Untuk menyelami anugrah terindah Tuhan: Perbedaan

Masih dari teman yang sama. Pada titik tertentu ia harus melaksanakan sholat subuh di dalam truk yang dihiasi oleh kalung salib yang menggelantung di kaca spion. Seperti yang kita tahu, sebagian besar masyarakt Flores merupakan umat Katolik. Dengan ramah, si sopir mempersilakan teman saya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Muslim.

Ketika sampai di Bali, mereka hendak makan di sebuah warung milik warga lokal. Si bapak sopir mengingatkan teman saya bahwa warung tempat ia akan makan terdapat menu daging babi sehingga ia mengingatkan teman saya untuk makan di warung sebelahnya yang menyajikan menu halal.

Perbedaan keyakinan sebenarnya bukanlah masalah sama sekali untuk hidup saling berdampingan di masyarakat. Hal ini sudah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun bahkan sebelum Indonesia merdeka. Dan sebenarnya, perbedaan itu adalah salah satu tanda kekuasaan Tuhan. Sebab kalau Ia mau, bisa saja Ia menciptakan manusia dengan keyakinan serta suku yang seragam. Justru perbedaan itulah yang membuat manusia bisa hidup saling melengkapi.

 

Featured image

The post Benarkah Solo Travel Bisa Membentuk Kepribadian Yang Kuat? appeared first on Yuk Piknik.

Semoga artikel tentang Benarkah Solo Travel Bisa Membentuk Kepribadian Yang Kuat? ini dapat memberikan manfaat ataupun menambah wawasan anda untuk Hangout.

Terima kasih sudah berkunjung di solosoloku.com

Sumber Link

loading...